
sejak 2 hari yang lalu, saya sudah mengagendakan untuk pulang lebih awal, walau pekerjaan segambreng, dengan sangat yakin saya akan meninggalkannya. Ya karena ‘friendship’ , saya yakin semua rutinitas yang ada tidak akan berakhir semua akan berulang dan berulang, padahal di ruang lain saya punya mereka. Saya punya sahabat, teman, kakak, adik, teman menggeje yang selalu ada setiap saya butuh.
Hampir di semua keadaan terpuruk saya mereka ada, dan selalu ada senyum bersama mereka. Sadar atau tidak merekalah yang selalu ada di saat saya senang, sedih, sehat, sakit ya merekalah sahabat. Pernah kita berfikir tentang pekerjaan dan rutinitas ini? apakah rutinitas ini peduli dengan keadaan kita, menurut pendapat pribadi saya : rutinitas selalu menuntut kita menberikan 100%, namun dia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada diri kita. Tapi sahabat tidak begitu selalu ada cerita selalu ada senyum.
Ada hak yang diberikan mereka (sahabat kita) kepada kita dan kita memiliki kewajiban kepada mereka, cukup memberikan sebagian waktu dan mendoakannya
Semoga Allah senantiasa menautkan hati hati kita dalam JalanNYA
just wanna say uhibbuki fillah
*waktu tidak pernah kembali, waktu tidak pernah berulang, tersenyum bersama
waktu kerjamu dan uangmu tak mampu membeli persahabatanmu dan sahabat