darinya saya belajar, darinya kami belajar

Dia seorang anak kecil, usianya kini menginjak 11 tahun tapi bagi saya, dia anak yang luar biasa, sering kali saya malu dengan usia dengan diri dan sering kali saya merasa tertampar dengan celotehannya. Saya dan Kami biasa memanggilnya Oppie.

Dia seorang siswa di salah satu sekolah dasar islam terpadu. Sering kali dan hampir dia menghabiskan waktu untuk sekolah dan segambreng acara di sekolahnya, kadang saya berfikir jika dia kehabisan waktu bermain, bahkan saya sering menyebut sekolahnya dengan sekolah kompeni (ampun dek :p )
Seringkali saya bertanya kepadanya, ” dek kamu ga capek sekolah, belajar, dan aktifitas lainnya?” dia hanya menggeleng dan tersenyum sambil menjawab ” menyenangkan kok”. Saya saja yang melihat capek lho (batin saya), Karena teman – teman seusianya, rata – rata jam 1 siang sudah pulang sekolah, sedangkan dia pulang jam 3, dan kembali lagi jam 4 hingga jam 6 sore. saya mendapat pelajaran kerja keras, dan tidak mengeluh, karena orang tua Oppie sering kali menanyakan apakah dia bosan sekolah, apakah dia ingin pindah sekolah, tapi dia selalu menjawab tidak. Dia menikmati sekolah dan kesibukannya yang sekarang. Sering kali mulut ini mengeluh capek, bosan, Maafkan saya Ya Allah :)
Pelajaran yang kedua saya dapatkan dari dia adalah semangat hafalannya, dia selalu bersemangat dalam menghafal Al Qur’an, dan yang menjaga hafalannya, saya ingat sekali ketika dia masih 5 tahun menginjak 6 tahun dia sudah menghafal asmaul husna dan mengajak kami belajar menghafal asmaul husna, sering kali dia mengucapkan hingga kami hafal dengan sendirinya, sekarang kasusnya juga sama, sering kali dia mengeraskan hafalannya hingga kami mulai familiar dengan ayat – ayat itu. Menurut dia menjaga hafalan itu hal yang sulit, dibandingkan menghafal yang baru. Sehingga sering kali dia menyuarakan / mengeraskan hafalannya untuk menjaganya agar tidak hilag. Luar biasa, cara yang dilakukan sederhana, tapi sangat membantu kami. Saya selalu ingat ketika dia melancarkan aksi “malas ngobrol” pasti dia akan setor hafalan Al Qur’an atau hafalan hadist. Ya Allah beruntungnya saya berada di dekatnya, selalu menulari saya dengan semangatnya, Ya Allah jadikan dia anak yang qurota a’yun bagi kelurga dan dimanapun dia berada.
Pelajaran ketika yang saya ambil adalah bagaimana dia berusaha istiqomah dengan pilihannya, sekolahnya menggunakan seragam, namun ada yang berbeda seragamnya, khusus kelas ukhti wajib menggunakan rok, kecuali pakaian olah raga dan pramuka dan wajib menggunakan kerudung yang menutup dada. Suatu hari dia dihadapkan pada suatu realita dimana dia orang tuanya ingin membelikan celana untuk baju lebarannya, namun dia mengatakan “Ibu, aku ga mau busana muslim celana, itu kayak akhi, aku kan ukhti, aku maunya rok” dan ibupun mencoba membujuk, dan Oppie mulai merajuk, eng ing eng akhirnya menemukan baju yang cocok. Itu bukan kali pertama, ketika akan berangkat sekolah dia selalu uring – uringngan kalau dikomentari masalah celana, banyak orang yang komentar “sudah pakai rok kok masih saja pakai leging” dan dengan santai dia manjawab “klo pakai rok harus pakai celana double-an biar ga kelihatan”. Dia selalu berusaha patuh dengan aturannya, dengan apa yang diyakini, hingga sampai sekarang orang tua dan orang disekitarnya memahami keinginan dan bagaiamana dirinya, masih sebeliau itu dia sudah mulai mencitrakan dirinya, hingga dia menjadi unique tanpa perlu melakukan distinct :)
Hal yang keempat uang saya pelajari dari dia, ketika dia ketakutan kehilangan sesuatu, kehilangan lingkungannya yang seperti sekarang, pada suatu sore, dia mengutarakan niatnya untuk melanjutkan sekolah di pondok, saya kaget dong,,,biasanya anak mah dipaksa masuk pondok, kalau sekarang si anak minta dimasukkan ke pondok. Ketika saya tanya, kenapa dia ingin masuk pondok, dia hanya menjawab “Biar ga hilang hafalannya” saat itu saya seperti ketiban lemari *lebay hahahhaha, cuma itu alasannya, dan setelah usut punya usut dia ingin memperbanyak hafalannya, ingin belajar SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) dan ingin seperti teman – temannya yang di pondok. Jujur saya mendukungnya, tapi orang tuanya tak mendukung, mereka takut kehilangan, maklum dia anak ketiga, ketika dia pergi dari rumah (baca mondok) pasti rumahnya makin sepi. Tapi saya kagumi niatnya, semoga Allah selalu menjaga kamu, menjaga hafalanmu, menjaga ilmumu, dan semoga saya dan kami selalu belajar dari kamu. Semoga energi positif yang kamu miliki. Belajar tak harus dengan orang yang lebih tua, terkadang dengan orang yang jauh lebih muda dari kita, kita harus lebih banyak belejar.
Terima kasih atas semangat, energi positif, dan semuanya :)

Semoga bermanfaat

Salam,
Ita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s